USD/IDR: Rupiah Berbalik Turun ke Rp17.830, Minyak Melonjak Jelang IHK AS

  • Kurs Rupiah melemah ke Rp17.830 per Dolar AS pada Selasa, membuat USD/IDR naik 80 poin atau sekitar 0,45% dari penutupan Senin.
  • Penjualan Eceran Indonesia masih turun 3,0% YoY pada Juni, tetapi kontraksinya menyempit dari 3,9% dan penjualan secara bulanan kembali tumbuh.
  • Lonjakan harga minyak akibat kebuntuan negosiasi AS–Iran meningkatkan kekhawatiran inflasi, sementara pasar menunggu IHK AS untuk menilai peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September.

Rupiah Indonesia (IDR) berbalik melemah pada perdagangan Selasa dan ditutup di Rp17.830 per Dolar AS (USD), setelah sehari sebelumnya mencatat kenaikan tajam. Pergerakan tersebut membawa pasangan mata uang USD/IDR naik 80 poin atau sekitar 0,45% dari penutupan Senin di Rp17.750. Kurs referensi JISDOR Bank Indonesia ditetapkan di Rp17.824 per Dolar AS, dibandingkan dengan Rp17.795 pada Senin.

Tekanan terhadap Rupiah muncul ketika harga minyak kembali melonjak akibat kebuntuan negosiasi AS–Iran mengenai kesepakatan damai dan pembukaan kembali Selat Hormuz. Kenaikan energi turut menghidupkan kekhawatiran terhadap inflasi AS dan prospek suku bunga Federal Reserve (The Fed). Dari dalam negeri, perbaikan penjualan eceran serta berkurangnya ketidakpastian mengenai kepemimpinan Bank Indonesia setelah pencalonan Destry Damayanti masih memberikan latar yang relatif positif bagi mata uang domestik.

Penjualan Eceran Membaik, Destry Menjaga Sentimen Domestik

Bank Indonesia melaporkan Indeks Penjualan Riil (IPR) Juni sebesar 225,0. Penjualan eceran turun 3,0% secara tahunan, lebih baik dari kontraksi 3,9% pada Mei, sedangkan secara bulanan tumbuh 0,7% setelah sebelumnya turun 1,5%. BI memprakirakan penjualan eceran Juli kembali tumbuh 0,9% YoY, didorong antara lain oleh makanan, minuman dan tembakau, suku cadang dan aksesori, serta perlengkapan rumah tangga. Penjualan mobil Juli juga tumbuh 33,3% YoY, sedikit di atas kenaikan 32,9% sebelumnya.

Sentimen domestik sebelumnya mendapat dorongan setelah Presiden Prabowo Subianto mencalonkan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia. Reuters mencatat pencalonan tersebut disambut positif pasar karena dipandang mengurangi ketidakpastian kepemimpinan dan membuka peluang kesinambungan kebijakan moneter. Rupiah pada Senin sempat mencapai posisi terkuat sejak 18 Juni sebelum sebagian kenaikan tersebut terkikis pada Selasa.

Minyak Mendekati US$90, Pasar Menunggu Inflasi AS

Tekanan eksternal terutama datang dari pasar energi. Brent melonjak 2,30% menjadi US$89,74 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) naik 2,61% ke US$84,27, setelah kedua kontrak melesat lebih dari 5% pada Senin. Harga minyak naik setelah tuntutan baru Presiden AS Donald Trump kepada Iran memperumit upaya mencapai kesepakatan dan membuka kembali Selat Hormuz.

Kekhawatiran terhadap tekanan inflasi juga tercermin di pasar obligasi AS. Imbal hasil Treasury AS 10-tahun dan 2-tahun naik sekitar 2 basis poin masing-masing ke 4,736% dan 4,26%. Kenaikan imbal hasil terjadi ketika lonjakan harga minyak kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi dan membuat pasar menilai ulang prospek suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Dolar AS sendiri tidak menunjukkan penguatan besar, dengan Indeks Dolar AS (DXY) bergerak relatif stabil di sekitar 99,87. Fokus pasar selanjutnya tertuju pada Indeks Harga Konsumen (IHK atau CPI) AS Juli yang akan dirilis Rabu. Inflasi utama diprakirakan naik 0,1% secara bulanan setelah turun 0,4% pada Juni, sementara secara tahunan diprakirakan melambat menjadi 3,4% dari 3,5%. IHK inti diprakirakan naik 0,2% MoM dan melambat menjadi 2,5% YoY dari 2,6%. Data yang lebih panas dari prakiraan dapat kembali meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dan menambah tekanan terhadap Rupiah.

Indikator Ekonomi

Belanja Konsumsi Perorangan Inti - Indeks Harga (Thn/Thn)

Belanja Konsumsi Perorangan (Personal Consumption Expenditures/PCE) Inti, yang dirilis oleh Biro Analisis Ekonomi, mengukur perubahan nilai semua barang dan jasa yang dibeli oleh penduduk AS pada periode tertentu, tidak termasuk komponen makanan dan energi yang lebih fluktuatif. Data triwulanan dirilis dalam laporan Produk Domestik Bruto (PDB) yang lebih luas. Data tersebut merupakan proksi untuk belanja konsumen, pendorong utama ekonomi AS. Secara umum, pembacaan yang tinggi dianggap sebagai bullish bagi Dolar AS (USD), sementara pembacaan yang rendah dianggap sebagai bearish.

Baca lebih lanjut

Rilis berikutnya Jum Agu 28, 2026 12.30

Frekuensi: Bulanan

Konsensus: -

Sebelumnya: 3.3%

Sumber: US Bureau of Economic Analysis

Setelah menerbitkan laporan PDB, Biro Analisis Ekonomi AS merilis data Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) bersama dengan perubahan bulanan dalam Pengeluaran Pribadi dan Pendapatan Pribadi. Pembuat kebijakan FOMC menggunakan Indeks Harga PCE Inti tahunan, yang tidak termasuk harga makanan dan energi yang bergejolak, sebagai pengukur utama inflasi mereka. Pembacaan yang lebih kuat dari perkiraan dapat membantu USD mengungguli para pesaingnya karena akan mengisyaratkan kemungkinan pergeseran hawkish dalam panduan ke depan The Fed dan sebaliknya.

Dolar AS: Volatilitas Turun saat Carry Trade Bertahan – ING

catat Chris Turner dari ING bahwa volatilitas Valas menurun karena investor tampaknya nyaman dengan Federal Reserve (The Fed) mempertahankan atau berpotensi mengetatkan suku bunga pada bulan September.
อ่านเพิ่มเติม Previous

Brent: Risiko inflasi meningkat dengan kebuntuan Hormuz – Deutsche Bank

Para ahli strategi Deutsche Bank menyoroti bahwa Minyak Brent telah menembus di atas $85, ditutup mendekati $88 karena Selat Hormuz tetap ditutup dan retorika antara AS dan Iran meningkat.
อ่านเพิ่มเติม Next