Rupiah Ditutup Melemah ke Rp18.140, Surplus Dagang Melampaui Ekspektasi tetapi Tekanan Belum Reda

  • Kurs Rupiah ditutup melemah ke level Rp18.140 per Dolar AS pada Senin, kehilangan 20 poin meskipun Dolar AS bergerak lebih rendah di pasar global.
  • Surplus perdagangan Indonesia mencapai US$3,36 miliar pada September, melampaui ekspektasi, sementara inflasi Oktober melandai menjadi 3,23%.
  • DXY bergerak di kisaran 101,70-an pada sesi Eropa, sedangkan harga minyak dunia turun lebih dari 2% di tengah perkembangan diplomasi Timur Tengah.

Rupiah Indonesia (IDR) membuka perdagangan November dengan kembali kehilangan sebagian penguatannya pada akhir pekan lalu. Pasangan mata uang USD/IDR ditutup di Rp18.140 pada Senin (2/11), meningkat dari Rp18.120 pada Jumat (30/10), atau mencerminkan pelemahan Rupiah sekitar 0,11%. Tekanan tersebut bertahan meskipun sejumlah indikator ekonomi domestik menunjukkan hasil lebih baik daripada prakiraan pasar, menandakan bahwa membaiknya fundamental belum sepenuhnya memulihkan kepercayaan investor terhadap mata uang Indonesia.

Dari pasar global, pelemahan Dolar AS dan koreksi harga minyak sebenarnya memberikan kondisi yang lebih mendukung bagi Rupiah. Indeks Dolar AS (DXY) bergerak di kisaran 101,70-an pada sesi Eropa, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 3,18% menjadi US$100,81 per barel dan Brent melemah 2,69% ke US$110,38. Namun, harga energi yang masih tinggi dan ketidakpastian geopolitik membuat mata uang negara berkembang tetap rentan.

Surplus Dagang Kuat, tetapi Defisit Migas Membayangi

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan surplus perdagangan Indonesia mencapai US$3,36 miliar pada September, melampaui konsensus US$1,9 miliar, meskipun menyusut dari US$3,55 miliar pada Agustus. Ekspor tumbuh 11,87% secara tahunan, meningkat dari 6,72%, sementara pertumbuhan impor melambat menjadi 18,41% dari 19,09%. Namun, surplus nonmigas sebesar US$5,67 miliar masih dibayangi defisit migas US$2,31 miliar. Hal ini menunjukkan kerentanan perdagangan Indonesia terhadap gejolak harga energi global.

Sementara itu, inflasi tahunan Oktober melandai menjadi 3,23% dari 3,28%, lebih rendah daripada prakiraan 3,29%, dengan inflasi inti turun menjadi 2,56% dari 2,84%. Kabar positif lainnya datang dari PMI Manufaktur S&P Global yang melonjak ke 54,0 dari 52,4, ekspansi terkuat sejak Maret 2024. Kendati demikian, Samuel Sekuritas mengingatkan bahwa peningkatan aktivitas manufaktur belum mencerminkan perubahan struktural menuju pertumbuhan berbasis investasi, terutama karena penyerapan tenaga kerja masih terbatas.

Dolar Tertekan, Pasar Tunggu Pemilu AS dan Data Ekonomi Indonesia

Penurunan harga minyak pada Senin turut didorong harapan diplomasi setelah pejabat Iran dan Qatar melanjutkan pembicaraan untuk meredakan konflik yang melibatkan AS dan Israel. Tim Waterer, Kepala Analis Pasar KCM Trade, sebagaimana dikutip Reuters, menilai pelemahan minyak sebagai koreksi teknis setelah lonjakan tajam pekan lalu. Tidak adanya eskalasi militer besar selama akhir pekan juga membantu meredakan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan.

Sementara itu, pemilihan sela AS pada Selasa (3/11) dan arah kebijakan Federal Reserve (The Fed) menjadi perhatian investor. Elias Haddad dari Brown Brothers Harriman memprakirakan DXY berpotensi turun menuju support 101,00 akibat tekanan pada saham teknologi. Namun, ketahanan ekonomi dan inflasi AS masih mendukung kebijakan ketat The Fed, yang berpotensi membatasi pemulihan Rupiah.

Dari dalam negeri, perhatian pasar berikutnya beralih ke rilis pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia kuartal III pada Kamis (5/11), setelah ekonomi tumbuh 5,29% secara tahunan pada kuartal sebelumnya. Investor kemudian akan mencermati data Cadangan Devisa Oktober yang dijadwalkan terbit pada Jumat (6/11), menyusul posisi September sebesar US$146,3 miliar.

USD/IDR Pertahankan Momentum Bullish, Resistance 18.183 Kembali Jadi Target

Grafik Harian USD/IDR
Grafik Harian USD/IDR

Secara teknis, berdasarkan grafik harian ICE, USD/IDR masih mempertahankan momentum bullish setelah menembus garis tren menurun yang terbentuk sejak Juni. Pasangan mata uang ini bergerak di 18.145, setelah sempat menyentuh 18.165, tetapi belum mampu melampaui resistance 18.183 (tertinggi 29 Oktober). Relative Strength Index (RSI) meningkat ke 65,48, menunjukkan tekanan beli Dolar AS kembali menguat meskipun belum memasuki wilayah jenuh beli.

Skenario bullish lanjutan menuntut penembusan kuat di atas resistance 18.183 untuk membuka ruang reli menuju level psikologis 18.200. Sebaliknya, kegagalan melampaui area tersebut berisiko memicu pullback korektif menuju support penting 18.090, diikuti level 18.000 dan 17.943. Struktur tren naik jangka pendek akan tetap valid selama harga bergerak di atas batas pertahanan 18.090.

PMI Manufaktur HCOB Jerman Oktober sesuai Prakiraan 54.2

Read more Previous

PMI Manufaktur HCOB Zona Euro Oktober di Atas Harapan 52.4: Aktual (53.3)

Read more Next